Tanda Kejang pada Bayi

Kejang merupakan kondisi dimana tubuh menyentak-nyentak, gemetaran, dan hilang kesadaran untuk sesaat. Tetapi kejang yang dialami bayi biasanya tidak terlalu terlihat. Bahkan awalnya, orang tua kerap tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan bayi mereka. Kejang umumnya terjadi ketika sel-sel di dalam otak memiliki aktivitas elektrik yang abnormal, sehingga secara sementara akan mengganggu sinyal elektrik normal di dalam otak.

Meski hingga kini dokter belum dapat memastikan penyebab dari kejang, epilepsi dianggap sebagai penyebab yang paling umum dari masalah tersebut. Lalu, ada pula hal-hal yang dinilai dapat memicu kejang, seperti trauma kelahiran, masalah otak, dan ketidakseimbangan kimia. Kejang pun lebih rentan dialami oleh bayi yang baru lahir dan anak-anak yang lebih kecil.

Karena tipe kejang yang menyerang bayi berbeda dengan yang dialami oleh orang dewasa, penting bagi orang tua untuk mengetahui tanda-tandanya. Berikut tanda-tanda yang perlu diperhatikan:

  • Kejang demam

Tanda-tanda bayi mengalami kejang demam adalah mata berputar serta tungkai kaki menegang atau menyentak-nyentak. Sekitar 4 dari 100 anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun setidaknya pernah sekali mengalami masalah ini, yang dipicu oleh demam tinggi, yaitu dengan suhu di atas 40 derajat.

  • Kejang infantil

Tipe kejang yang langka ini kerap terjadi di tahun pertama kehidupan anak, umumnya pada usia 4-8 bulan. Tanda-tandanya adalah tubuh bayi menegang dan membungkuk ke depan, atau punggung, lengan, dan kakinya mendadak kaku dan melengkung. Kejang infantil cenderung terjadi sebelum dan setelah bangun tidur, atau setelah menyusu. Kejang ini dapat terjadi ratusan kali dalam sehari.

  • Kejang fokal

Bayi akan berkeringat, muntah, kulitnya memucat, dan salah satu ototnya kejang atau kaku, misalnya otot di jari, lengan, atau kaki. Bayi juga akan tersedak, mengecapkan bibir, menangis, dan hilang kesadaran.

  • Kejang absence (petit mal)

Tatapan bayi akan kosong, lalu berkedip dengan cepat atau mengatup-ngatupkan rahang. Kejang ini biasanya berlangsung kurang dari 30 detik dan terjadi beberapa kali dalam sehari.

  • Kejang atonik

Bayi akan kehilangan fungsi otot secara tiba-tiba, sehingga ia lemas dan tidak bergerak. Kepalanya mendadak akan terkulai, atau jika ia sedang merangkak atau berjalan, maka ia akan terjatuh ke lantai.

  • Kejang tonik

Beberapa bagian pada tubuh bayi, misalnya tangan dan kaki, atau seluruh tubuh secara tiba-tiba akan kaku.

  • Kejang mioklonik

Kelompok otot pada tubuh bayi, biasanya leher, bahu, atau tangan bagian atas, akan menyentak-nyentak. Kejang akan terjadi beberapa waktu dalam beberapa hari secara berturut-turut.

Jika bayi Anda mengalami tanda kejang seperti di atas, perhatikan hal berikut. PERTAMA, berapa lama kejang terjadi pada bayi Anda. KEDUA, kejang berawal di area tubuh yang mana, apakah di tangan, kaki, atau mata. Lalu perhatikan apakah kejang menyebar ke area tubuh yang lain. KETIGA, bagaimana gerakan kejang, apakah tatapan mata kosong, menyentak-nyentak, atau kaku. KEEMPAT, apa yang sedang dilakukan bayi sebelum mengalami kejang.

Memang menakutkan melihat bayi mengalami kejang. Tetapi hal utama yang harus dilakukan adalah memastikan agar ia terlindungi dari cedera. Jauhkan benda-benda keras, seperti perabot dan mainan, lalu biarkan ia berguling ke samping untuk mencegahnya tersedak jika sewaktu-waktu ia muntah. Jangan mencoba memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Segera bawa ke dokter jika bayi mengalami kesulitan bernapas, tubuhnya membiru, kejang lebih dari 5 menit, atau tidak memberikan respons apapun selama 30 menit setelah kejang.